Hujan Sumber Utama Pengairan Pertanian Indonesia (2)

Posted 13 days ago in NEWS. 12 Views

Hujan Sumber Utama Pengairan Pertanian Indonesia (2)

Hujan Sumber Utama Pengairan Pertanian Indonesia (2)

 

https://kompas.id/baca/riset/2018/11/01/hujan-sumber-utama-pengairan-pertanian-indonesia-2/

 

KOMPAS/ADI SUCIPTO K

Areal sawah siap panen di Datinawong dan Patihan, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, terendam banjir luapan Kali Konang. Selain dipicu hujan deras, banjir juga disebabkan kurangnya resapan air. Daerah tangkapan air seperti Rawa Semando mengalami pendangkalan karena berubah fungsi sebagai areal pertanian. Untuk upaya mempercepat surutnya genangan di wilayah Babat, pompa berkapasitas 1500 liter per detik diaktifkan.

Secara kalender cuaca, bulan Oktober lalu sudah saatnya memasuki musim basah. Namun, di wilayah Jabodetabek hujan belum juga turun hingga minggu kedua. Ada indikasi awal musim hujan agak bergeser mundur ke belakang.

Berdasarkan laporan prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, pada Oktober lalu mayoritas wilayah Indonesia status hujannya masih bersifat di bawah normal.

Curah hujan rata-rata di bawah 100 mm per bulan. Hanya beberapa daerah yang sudah memasuki curah hujan menengah dan tinggi, seperti wilayah Sumatera bagian utara dan Kalimantan bagian utara.

Pada bulan November saat ini, status hujan diperkirakan mulai rata-rata normal di seluruh Indonesia dan mulai tinggi di sejumlah tempat. Karena itu, hampir bisa dipastikan musim hujan baru mulai pada bulan November ini.

Bergesernya musim ini membuat petani tidak serentak bertanam. Salah satunya di daerah pertanian tanaman sayuran di Desa Kabandungan, Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Awal musim tanam pada sejumlah lahan pertanian tidak seragam. Penelusuran penulis di sejumlah sentra penghasil sayur mayur yang memasok pasar-pasar di DKI Jakarta menunjukkan hal itu.

Ada beberapa petani yang sudah mulai tanam mentimun, terong, dan paria pada akhir September lalu. Ada juga yang baru mulai bertanam cabai pada Oktober ini. Namun, ada juga yang belum berani menanam sama sekali.

Berbagai alasan dilontarkan, tetapi pada dasarnya petani memakai patokan yang sama, yakni terkait hujan. Hanya saja, seberapa besar intensitas hujan itu, setiap petani punya ukurannya sendiri-sendiri.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Petani mencari air di dasar Waduk Botok, Desa Mojodoyong, Kecamatan Kedawung, Sragen, Jawa Tengah, untuk mengairi tanaman di waduk yang mengering akibat kemarau tersebut, Senin (23/7/2018). Mengeringnya waduk yang berfungsi mengairi lahan sawah seluas 2.488 hektar itu membuat sebagian besar petani membiarkan lahan mereka tidak ditanami sampai musim hujan tiba.

 

Apabila hujan mulai sering, hampir dapat dipastikan petani akan bersamaan menanam. Namun, jika hujan masih jarang turun seperti saat ini, petani kadang berbeda pendapat tentang awalan musim tanam.

”Saya mungkin baru mulai tanam nanti pada akhir Oktober atau awal November. Menunggu turun hujan seminggu minimal tiga kali. Saya baru berani menanam timun dan terong karena tanaman saya memerlukan air yang banyak, terutama timun,” kata Odes, petani di Megamendung.

”Saya berharap, hujan segera tiba agar bisa segera bertanam seperti teman-teman yang lahannya dekat dengan sumber air atau sungai,” ujar Odes. ”Bila dekat dengan sumber air, tinggal menarik air dengan selang dan mesin pompa sehingga tanaman dapat disirami setiap hari,” lanjutnya.

Hal serupa dikatakan oleh Ahmad, petani mentimun dan cabai yang sudah mempersiapkan lahannya untuk ditanami. ”Bila musim hujan tiba, saya langsung mulai penanaman. Kebetulan lahan saya sudah siap semua, mulai dari pengolahan tanah, pemupukan, hingga penutupan mulsa (plastik penutup tanah agar tidak diserang gulma). Saya harap, hujan segera turun agar tanaman saya segera menghasilkan uang,” tuturnya.

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa hujan merupakan berkah sekaligus tanda alam yang mengisyaratkan petani untuk memulai penanamannya. Anomali cuaca seperti inilah yang kadang kala dikhawatirkan petani.

KOMPAS/REGINA RUKMORINI

Petani memulai aktivitas menanam padi dengan membajak sawah di Desa Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (23/10/2016). Tingginya intensitas hujan dan ketersediaan air irigasi yang berlimpah dimanfaatkan petani untuk mempercepat musim tanam padi. Biasanya, aktivitas menanam padi baru dimulai pada November dan Desember.

 

Modal sudah dikeluarkan berupa pengolahan tanah dan pembenihan, tetapi hujan belum juga turun meskipun sudah masuk musimnya. Ada bayang-bayang kerugian bagi petani apabila musim kemarau tak kunjung berakhir. (LITBANG KOMPAS)