Duet Sekolah Menyenangkan

Posted 1 month ago in Berita-berita SDG. 101 Views

Melihat langsung model pendidikan di luar negeri dan merasakan dampaknya pada sang buah hati, mendorong pasangan ini ingin berbagi pengalaman dan tekad mereka, mendorong revolusi paradigma pendidikan. Revolusi untuk mengejar ketertinggalan kemampuan berpikir kritis serta mempersempit kesen

Duet Sekolah Menyenangkan

SUMBER

https://kompas.id/baca/utama/2018/11/11/duet-sekolah-menyenangkan/

Melihat langsung model pendidikan di luar negeri dan merasakan dampaknya pada sang buah hati, mendorong pasangan ini ingin berbagi pengalaman dan tekad mereka, mendorong revolusi paradigma pendidikan. Revolusi untuk mengejar ketertinggalan kemampuan berpikir kritis serta mempersempit kesenjangan pendidikan dengan negara lain melalui Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM).

Hujan rintik-rintik mengiringi kehadiran T Novi Poespita Candra (43) dan Muhammad Nur Rizal (43) sore itu di kedai kopi sebuah mal di kawasan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten. Novi dan Rizal, begitu mereka biasa disapa, tetap tampak segar dan bersemangat meski baru saja selesai memberikan seminar GSM di Kabupaten Tangerang sejak pagi hari.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG (MYE) 17-10-2018

Muhammad Nur Rizal dan Novi Poespita Candra – penggagas Gerakan Sekolah Menyenangkan

Sambil ngopi-ngopi yang menjadi kegemaran keduanya, meluncurlah kisah-kisah menggembirakan, tidak jarang mengharukan tentang perjuangan menyebar ”virus” GSM. Seru, penuh semangat, dan akrab terpancar dari pasangan yang telah dikaruniai tiga anak yang semuanya perempuan.

Keduanya sangat peduli dengan pendidikan dan prihatin melihat jurang yang terlalu lebar dengan pendidikan negara lain yang sudah lebih memfokuskan pada kemanusiaan, kemerdekaan berpikir, dan karakter anak. Keduanya tidak ingin anak-anak Indonesia hanya berakhir sebagai robot-robot penghafal memori pengetahuan tanpa kemampuan desain dan critical thinking yang cukup untuk menghadapi perubahan zaman.

Mendapat kesempatan menempuh program Ph.D di Australia, tahun 2009 Rizal berangkat dengan anak pertamanya, Aliya (16), yang saat itu duduk di kelas II sekolah dasar. Keberangkatan Aliya sempat dikhawatirkan ibu dan neneknya. Bukan saja karena Rizal belum bisa memasak saat itu, tetapi juga latar belakang Aliya yang sebelumnya ”hanya” menempuh pendidikan di sekolah negeri dan belum bisa berbahasa Inggris.

”Ternyata pas saya jemput di sekolah, anaknya enggak mau pulang, kerasan. Saya tanya sama ibunya, anakmu, tuh, ada apa, ya, kok enggak mau pulang, betah di sekolah,” ungkap Rizal tentang anaknya yang bersekolah di Clayton North Primary School (CNPS), Melbourne, Victoria.

Rizal yang penasaran kemudian meminta izin masuk kelas selama 30 menit. Ia mengamati metode guru mengajar dan interaksi antara guru dan murid. ”Ternyata pendekatannya memanusiakan. Ketika anak datang, disambut. Belajar tidak hanya menghadap buku, tetapi juga bisa lewat menceritakan pengalaman hidup lalu dikaitkan dengan teori,” ungkap Rizal.

Setahun kemudian, Novi menyusul, juga untuk melanjutkan pendidikan dan memboyong Jaeza dan Sora, adik-adik Aliya. Pasangan ini kemudian masuk kelas demi kelas di berbagai sekolah, sekaligus sebagai bahan riset Novi yang tercatat sebagai dosen Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pengalaman keduanya dituangkan ke media sosial dan beberapa buku yang ditulis bersama diaspora Indonesia di sejumlah negara, antara lain Sekolah Itu Asyik dan Sekolah Nirkekerasan.

”Kebetulan, saya riset di situ, bagaimana membangun sekolah yang baik. Jadi, masuk sekolah-sekolah untuk lihat praktik baik (best practise) mereka. Tidak semua serta-merta bisa di-copy paste. Semakin lama justru menyadari bahwa kita sudah punya itu, nilai-nilai yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara, masih sangat kontekstual dan sesuai dengan teori psikologi modern. Sekolah sebagai taman yang menyenangkan,” kata Novi.

Kekurangan yang dilihat Novi, metode pendidikan di Tanah Air belum banyak memanfaatkan teori-teori psikologi. Pendekatannya lebih banyak ke materi pembelajaran dan bukan perubahan perilaku. ”Padahal, pada era disrupsi ini, target utama pendidikan adalah karakter. Meskipun sudah ada program penguatan karakter, tetapi asesmennya masih kognitif. Padahal, kalau karakternya baik, akademiknya ngikut,” tambah Novi.

Kisah-kisah yang mereka bagi kemudian mengundang penasaran banyak orang. Salah satunya, teman mereka berdua, dosen Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Keduanya diminta memberikan seminar kepada guru-guru sekolah dasar swasta di lingkungan yayasan yang menaungi.

Nekat

Rizal lalu nekat menghubungi kepala sekolah anaknya dan menceritakan tentang seminar ini. Ia meminta agar CNPS mengirimkan beberapa gurunya untuk memberikan materi langsung.

”Saya bilang, gara-gara story sekolahmu ini guru-guru kami jadi pengin tahu bentuknya seperti apa. Tapi, maaf kami tidak punya uang untuk membiayai. Kami bisa sekolah di Australia saja karena beasiswa. Kami hanya orang gila yang peduli pada pendidikan anak-anak di negara kami,” kata Rizal tertawa mengenang.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG (MYE) 17-10-2018

Muhammad Nur Rizal dan Novi Poespita Candra

Sang kepala sekolah yang tergerak kemudian mengirim tiga guru ke Yogyakarta lengkap dengan tiket, biaya hotel, dan akomodasi selama di Yogyakarta. Mereka juga tidak meminta imbalan atas jasa memberikan seminar. ”Mereka sebelumnya saya ajak keliling melihat kondisi sekolah di sini dan kaget karena beda sekali. Mereka akhirnya menyesuaikan materi agar lebih sesuai kondisi riil lapangan,” kata Rizal yang dosen Fakultas Teknik UGM.

Tidak hanya seminar yang saat itu berlangsung akhir 2014, CNPS juga mengirimkan kembali guru-gurunya tahun 2015, 2016, dan 2017. Tahun ini, biaya keberangkatan mereka ditanggung Pemerintah Australia setelah muncul artikel tentang kiprah Rizal dan Novi di Sidney Morning Herald.

”Pada tahun kedua, digelar kembali seminar, tetapi kami meminta separuhnya diberikan kepada guru-guru dari sekolah negeri,” tambah Rizal.

Rizal dan Novi kemudian membuat syarat hanya bersedia mendampingi sekolah negeri dan sekolah swasta marjinal. Sekolah-sekolah yang tidak favorit, dianggap buangan, dan hampir mati inilah yang jumlahnya paling banyak. Sementara sekolah favorit dan sekolah swasta mahal yang mampu memberdayakan diri hanya bisa diakses kalangan terbatas. Keduanya pernah menolak memberikan seminar dan pelatihan kepada serombongan sekolah swasta mahal.

Ketimpangan aksesibilitas pendidikan dirasakan keduanya sejak kecil. Besar di kalangan yang mengharamkan sekolah umum, Rizal justru didorong sang ayah untuk belajar setinggi- tinginya dan sejauh-jauhya. Ayahnya adalah anak kiai sebuah pesantren kampung di Madura yang berpikiran maju pada zamannya. Demikian pula dengan Novi yang lahir dari keluarga sederhana di Magelang. Ayahnya tentara berpangkat rendah yang sulit menguliahkan anak-anaknya. Novi harus menyambi kerja saat kuliah. Demikian pula ketika di Australia, Rizal menyambi sebagai loper koran, pengamen, dan pembersih WC di sela kesibukan mengerjakan tesis.

Bertemu saat sama-sama aktivis di Senat Mahasiswa di UGM, keduanya mengaku ingin mempertahankan ruh sebagai aktivis. Novi biasanya paling sering muncul mengingatkan cita-cita dan idealisme mereka. Pernah, Rizal diundang mengisi seminar oleh sebuah lembaga negara. Pada saat yang sama ia diundang seminar untuk guru-guru dari sekolah marjinal di Semarang. Setelah diingatkan Novi, Rizal memilih pergi ke Semarang. ”Kalau mau kaya, gampang. Pulang dari Australia, kami bisa jadi konsultan. Yang menawari bikin sekolah juga banyak, tetapi itu bukan cita-cita kami,” kata Rizal dan Novi berbarengan.

Bergulir

Inisiatif yang dibangun secara gotong royong ini kemudian diberi nama Gerakan Sekolah Menyenangkan. Berasal dari ekspresi keinginan anak-anak tentang sekolah yang mereka dambakan, yakni sekolah yang menyenangkan. Novi dan Rizal tidak meminta imbalan, sebaliknya keduanya juga tidak memberikan hadiah kepada sekolah yang berhasil menerapkan GSM, melainkan memberikan penguat berupa materi dan tantangan baru. Untuk menekan biaya, pelatihan diselenggarakan di sekolah agar tidak perlu sewa tempat. Biaya makan ditanggung beramai-ramai oleh guru. Dengan cara ini, guru juga ditumbuhkan rasa kepemilikannya.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG (MYE) 17-10-2018

Muhammad Nur Rizal dan Novi Poespita Candra

Gerakan ini kemudian menyebar dari mulut ke mulut. Tidak sedikit guru yang dengan inisiatif pribadi menyebarkan ”virus” GSM ini dengan berbagi keberhasilannya kepada guru-guru koleganya dari sekolah lain. Sudah ratusan sekolah bergabung dengan gerakan ini.

Seusai seminar dan pelatihan, Novi dan Rizal memanfaatkan grup Whatsapp berisi para guru dengan pendekatan appreciative learning. Mereka didorong mengungkapkan ide dan praktiknya di sekolah masing-masing dengan ganjaran apresiasi positif dari Rizal dan Novi selaku pendiri GSM. Sederhana dan cepat. Guru lainnya bisa mencontoh atau memodifikasi. Inovasi para guru dan kiprah GSM juga diunggah di halaman Facebook GSM dan FB pribadi Novi dan Rizal yang mudah ditiru untuk dipraktikkan.

”Tiap hari bisa muncul 100 ide perubahan dari guru. Kami menggabungkan teori-teori yang kami pahami di bidang psikologi dan Teknologi Informasi untuk mengembangkan gerakan ini,” kata Rizal.

Dengan grup dukungan ini, guru terdorong mempraktikannya di sekolah. Jika di awal, tingkat kegagalan 50 persen, saat ini persentasenya semakin kecil. Sekolah-sekolah hampir mati dan buangan mulai bertransformasi menjadi sekolah yang, menurut Rizal dan Novi, suasana dan anaknya boleh dibandingkan dengan sekolah internasional. Sekolah-sekolah ini kerap dijadikan tujuan studi banding sekolah-sekolah yang baru bergabung. Keberhasilan gerakan ini juga menarik program tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan, seperti Sinarmas Land dan beberapa pemerintah daerah untuk bergabung, seperti Pemerintah Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang.

”Kami tidak pernah menyebar proposal. Silakan bergabung sepanjang syarat melibatkan sekolah marjinal dipenuhi,” kata Novi.

Pendidikan dan GSM memang menyita hampir sebagian besar perhatian dan obrolan keduanya. Novi dan Rizal senang berdiskusi sambil ngopi, juga dengan ketiga anak mereka. Di sela-sela itu, mereka pergi bertamasya atau menonton di bioskop, hobi yang semakin menyatukan kelimanya. Hanya menonton bola yang membuat Rizal harus menjalaninya sendirian. ”Kalau itu aku tidur saja,” kata Novi sambil melirik menggoda.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG (MYE) 17-10-2018

Novi Poespita Candra dan Muhammad Nur Rizal

T Novi Poespita Candra

Lahir: Magelang, 19 November 1974

Pendidikan:
– Kandidat PhD University of Melbourne (2012-sekarang)
– Master Psikologi UGM (2003-2005)
– Program Profesi Psikolog (1999-2001)
– Sarjana Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) (1994-1999)

Pengalaman:
– Peneliti pada Center of Life Span Developmental Psychology UGM (2017-sekarang)
– Anggota Tim Peneliti Transformasi Pendidikan Indonesia kerja sama UGM dan Monash University (2016-sekarang)
– Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (2012-sekarang)
– Pendidik pada CERES (komunitas seni dan pendidikan di Melbourne) (2010-2011)
– Dosen Fakultas Psikologi UGM (2008-sekarang)
– Peneliti pada Center of Indigenous Psychology, UGM (2008-sekarang)
– Psikolog pada Yogyakarta International Hospital (2008-2010)

Muhammad Nur Rizal

Lahir: Surabaya, 19 Juni 1975

Pendidikan:
– S-3 (PhD) Monash University, Australia
– S-2 Chulalongkorn University, Thailand
– S-1 Teknik Elektro dan Teknologi Informasi UGM

Pengalaman:
– Dosen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi UGM
– Mengeluarkan sejumlah riset, publikasi, dan program pengabdian masyarakat
– Dewan Komite dan direktur eksekutif berbagai proyek penelitian dan pengembangan institusi kampus di lingkungan UGM

Pengalaman Organisasi:
– Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (2012-sekarang)
– Ketua Komunitas dan Mahasiswa Pascasarjana Muslim Monash University (2010)
– Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Thailand (2003)
– Ketua Senat Mahasiswa UGM (1996)

Tags: GSM,