Menyelesaikan Perkara Kota dengan Bisnis Sosial

Posted 9 days ago in Berita-berita SDG. 12 Views

Kehidupan terkini, tak terkecuali di perkotaan seperti wilayah Jabodetabek, nyaris identik dengan beragam persoalan. Model bisnis sosial yang tidak semata-mata berorientasi profit digadang-gadang menjadi jawaban untuk mengatasinya.

Menyelesaikan Perkara Kota dengan Bisnis Sosial

Sumber :

 

https://kompas.id/baca/utama/2018/12/03/menyelesaikan-perkara-kota-dengan-bisnis-sosial/

 

Jordan Syein, Sabtu (1/12/2018) tengah menjelaskan bisnis sosial yang digagasnya kepada para peserta dan mentor “Sprint Day” yang diselenggarakan Social Innovation Acceleration Program (SIAP) di salah satu ruang kerja bersama di bilangan Senopati, Jakarta Selatan.
KOMPAS/INGKI RINALDI (INK)
01-12-2018

 

Kehidupan terkini, tak terkecuali di perkotaan seperti wilayah Jabodetabek, nyaris identik dengan beragam persoalan. Model bisnis sosial yang tidak semata-mata berorientasi profit digadang-gadang menjadi jawaban untuk mengatasinya.

Sejumlah program dijalankan untuk mencetak wirausahawan sosial. Seperti yang misalnya dilakukan beberapa anak muda dalam wadah Social Innovation Acceleration Program (SIAP), Sabtu (1/12/2018) di salah satu ruang kerja bersama di bilangan Senopati, Jakarta Selatan.

Anak-anak muda, lelaki dan perempuan, dalam berbagai rentang usia dan latar belakang berkumpul sepanjang Sabtu dan Minggu (2/12/2018) dengan ide bisnis sosial masing-masing. Secara total, terdapat lima ide bisnis dicetuskan dan dipertajam selama dua hari itu dengan kehadiran sejumlah mentor bisnis sosial.

Jordan Syein misalnya, yang ingin membawa Komunitas Brotherfood pimpinannya ke tingkatan lebih tinggi lagi. Komunitas yang terbentuk awal 2018 itu mengumpulkan makanan yang berlebihan di tempat kerja untuk dikemas kembali dan dibagikan secara layak pada orang-orang yang membutuhkan.

Pada salah satu sesi paparan rencana bisnis, Jordan menjelaskan, selama enam bulan terakhir mereka telah melakukan pilot project kegiatan terkait di dua kantor Pada tingkatan selanjutnya, ia ingin mengembangkan kerjasama dengan sejumlah gerai penjual makanan dan minuman.

Berbagai strategi penggunaan ulang makanan dan atau bahan makanan berlebih, selain mengemas ulang yang masih layak konsumsi, telah ia siapkan. Di dalamnya termasuk potongan-potongan buah yang tidak terpakai dan bisa diolah menjadi jus, atau sisa makanan yang bisa dibuat menjadi pupuk kompos.

Jordan  mengatakan, banyak cara untuk memanfaatkan makanan berlebih ketimbang hanya sekedar membuangnya begitu saja. Pada bagian lain, ia mengatakan bahwa model bisnis sosial tersebut ditujukan untuk membangun kebisaaan mengurangi sampah makanan.

Selain itu, juga menyeimbangkan kebutuhan orang-orang terkait akses pada makanan sebagai kebutuhan dasar untuk hidup. “Prinsipnya (manusia itu) berkelebihan atau berkecukupan. Kalau ada yang (berada dalam keadaan) kurang, berarti ada yang mengambil jatahnya,” ujar Jordan.

Lain lagi dengan Faishal Ammar, yang ingin memberikan kesetaraan akses bagi mereka yang hidup dengan keadaan difabel untuk dapat menari. Sebelumnya, Faishal telah pula berpengalaman mengorganisasi sejumlah kelompok penari difabel dalam sebuah ajang pementasan.

Adapun Wisna, muncul dengan ide pemberian berbagi kebahagian lewat komentar-komentar positif yang diberikan dalam sejumlah unggahan tertentu di media sosial. Caranya ialah dengan memberikan hadiah pada sebagian orang yang mengunggah komentar positif. Adapun hadiahnya, diharapkan berasal dari pemilik produk-produk bisnis yang ingin berbagi.

Sesi tersebut dipandu M. Fikri Akbar yang kini tengah terlibat di SIAP sebagai program associate. Fikri, yang akrab disapa Fikbar menyebutkan, SIAP memiliki produk andalan  bernama “Development Bootcamp” yang dijalankan dalam waktu 2 bulan hingga 3 bulan.

Produk tersebut selain “Sprint Day,” yang dijalankan pada Sabtu dan Minggu tersebut, serta produk “Advancement Stage” yang merupakan modul akselerasi, dimana SIAP akan berperan sebagai mitra kerja. Fikbar menambahkan, para peserta datang dari berbagai kanal, termasuk laman digital dan media sosial sebelum akhirnya turut dalam aneka program tersebut dengan membayar sejumlah biaya.

Ini setelah diawali dengan metode “jemput bola” untuk mengenalkan keberadaan SIAP pada awal-awal masa pendiriannya, di sekitar 1,5 tahun lalu. Sejumlah lulusan program SIAP, kini telah pula menjadi mentor dalam sebagian produk mereka dan menjalankan bisnis sosial masing-masing.

Salah seorang di antaranya adalah Indri Mahadiraka yang merupakan CEO Saveyourselves.id yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental. Edukasi, konseling, dan pencegahan bunuh diri menjadi tiga fokus kegiatan mereka.

Akan tetapi, tidak semua lulusan lantas melanjutkan dengan model bisnis sosial yang teruji. Fikbar mengilustrasikan, dari sekitar 200 orang yang turut dalam salah satu program, bisa mengerucut menjadi 37 peserta dalam kelas akselerasi sebelum pada akhirnya menghasilkan empat  wirausahawan sosial.

Adapun bisnis sosial, merupakan respon atas ketimpangan dalam kehidupan menyusul model bisnis konvensional dengan logika sebagai bisnis yang melulu berfokus untuk memaksimalkan laba. Bisnis sosial, seperti dikutip dari buku Muhammad Yunus pada 2007 yang berjudul “Creating a World Without Poverty: Social Business and the Future of Capitalism,” adalah jenis baru bisnis. Wirausahawan, dalam hal ini mendirikan bisnis sosial bukan untuk sebatas mencapai keuntungan pribadi,  melainkan untuk mengejar tujuan sosial tertentu.

Peran Mentor

Sejumlah mentor yang turut dalam jejaring SIAP menjadi salah satu kunci untuk mengawal proses perkembangan wirausahawan-wirausahawan sosial itu tadi. Salah seorang di antaranya yang pada Sabtu itu ikut adalah CEO dan salah seorang pendiri Clevio, Aranggi Soemardjan.  Clevio adalah lembaga pendidikan dan pelatihan bahasa pemrograman komputer bagi anak-anak.

Pada salah satu sesi, Aranggi berdiskusi dengan M. Ilham Basya yang memiliki gagasan untuk mempertemukan para pecinta kucing. Basya melihat, ada persoalan yang dimiliki penyayang berbagai jenis kucing dan ras, termasuk kucing jalanan, menyusul kurangnya dana untuk penyelamatan, perawatan, dan pemeliharaan secara layak.

Pada sisi lain, ada kelompok penyayang kucing yang menurut Basya cenderung fokus pada tampilan fisik dan ras tertentu kucing, serta memiliki sumber daya finansial yang relatif besar. Selain itu, ada pula kelompok masyarakat yang berada di antara dua kelompok tersebut. Akan tetapi Aranggi lantas menyadarkan Basya, bahwa adajuga kelompok masyarakat lain di luar tiga klasifikasi yang dibuat Basya, dalam relasi mereka dengan kucing. Masukan ini cukup membuat Basya berpikir ulang dan mempertimbangkan target penerima manfaat sesungguhnya dalam model bisnis sosial tersebut.

Pada bagian lain, Aranggi juga sempat terlibat diskusi dengan Navitri yang ingin membersihkan  dan mengelola sampah pada sebagian kawasan wisata di Lombok dan pada saat bersamaan, sedang mengembangkan konsep pertanian berkelanjutan di Sumatera Barat. Tukar pikiran itu sepertinya cukup meyakinkan Navitri untuk berfokus terlebih dahulu pada aktivitasnya di Sumatera Barat agar optimalisasi hasil bisa diperoleh segera.

Proses pada hari itu dibagi dalam sejumlah bagian. Termasuk di antaranya adalah menyusun “storyboard” untuk memastikan dihasilkannya solusi yang efektif dalam setiap tahapan pengalaman pengguna.

“Design Sprint’ dipilih sebagai metode dalam kegiatan tersebut. “Design Sprint” dimulai sejak 2010 oleh Jake Knapp dan dikembangkan Google Ventures hingga dirilis ke publik di sekitar tahun 2013 lalu.

Dalam buku berjudul “Sprint: How to Solve Big Problems and Test New Ideas in Just Five Days” yang ditulis Jake Knapp bersama John Zeratsky dan Braden Kowitz pada2016 lalu, disebutkan tiga bahan baku “ajaib” untuk mewujudkan metode “Sprint.” Masing-masing adalah kerja individual, waktu untuk pembuatan prototipe, dan tenggat waktu yang tak terhindarkan.

Karena itulah, pada sejumlah sesi, Fikbar bersetia dengan  aplikasi pengukur waktu yang memberikan batas akhir bagi peserta. Peran pengukur waktu menjadi makin krusial karena program yang sejatinya lima hari itu dipadatkan menjadi hanya dua hari saja.

Knapp, dalam buku tersebut menjelaskan, hari pertama diisi dengan berbagi informasi dan membuat sketsa ide-ide. Semuanya dibatasi tenggat ketat. Adapun empat hari berikutnya diisi dengan proses untuk membuat prototipe.

Jika diurai, Knapp membaginya ke dalam urutan Senin sebagai hari untuk menggambar peta permulaan yang berisikan target dan tujuan akhir. Selasa menjadi hari untuk memadukan dan mengembangkan ide-ide ke dalam sketsa. Rabu waktunya menderu dengan memutuskan sejumlah hal dan mendeskripsikannya dalam ‘storyboard.” Kamis diisi dengan pembuatan prototipe, dan Jumat adalah hari pengetesan model bisnis sekaligus pembelajaran.

Lima hari menjadi hanya dua hari, tampaknya sudah merupakan tantangan tersendiri. Tapi percayalah, mereka adalah orang-orang dengan minat dan hasrat besar untuk menyelesaikan perkara dengan wirausaha.

Paling penting, mereka berani memulai. (INK)

Tags: BisnisSosial,